RENUNGAN agar tidak berfikir suka TAKFIRI atau mengkafirkan orang lain dan menganggap diri dan golongannya saja yang paling benar dan orang lain SALAH :
"Bro, aku lagi butuh 500 ribu, penting banget, darurat. Please, tolong pinjami aku dulu".
Sahabatnya membalas: "Tunggu barang 1/2 jam ya bro, insya-ALLAH nanti aku transfer".
Sudah lewat dari 1/2 jam . . satu jam . . tapi sahabatnya tk juga memberi kabar. Ketika ditelpon pun ternyata HP nya tdk aktif.
Ia pun mengirim SMS : "Selama ini aku tk pernah mengecewakanmu bro. Tapi kenapa skarang kau lari dariku?! Apa salahku?!"
Bbrapa saat berlalu....Setelah dibaca, sahabatnya menelpon kembali & berkata:
"Astaghfirullah, semoga ALLAH mengampunimu, Aku tidk bermaksud mematikan HP untuk lari darimu. HPku mati krn aku sedang menjual HPku untuk membantu kebutuhanmu. Lalu, dari sisa penjualan, aku belikan HP second yg murah agar bisa menghubungimu".
Sahabat ...
Manusia hari ini suka berprasangka krn lingkungan yg suka mempengaruhi...
Ada sangkaan baik & ada sangkaan buruk...
Orang rajin ibadah disangka riya;
yg bersantai disangka malas;
yg pakai baju baru disangka pamer;
Yg pakai baju buruk disangka tdk hormat;
Yg makan banyak disangka rakus;
ygmakan sedikit disangka “diet” ketat;
Yg baik disangka buruk;
Yg buruk disangka baik;
Yg tersenyum disangka mengejek;
Yg masam disangka menyindir;
Yg mengkritik disangka mengumpat;
Yg diam disangka menyendiri;
Yg menawan disangka pakai susuk;
Yg sering ikut kajian/ta'lim dianggap kelompok aliran macam2.
Siapa tahu..
Yg diam itu krn berzikir kpd ALLAH
Siapa tahu...
Yg tersenyum itu krn bersedekah;
Siapa tahu...
Yg bermuka masam itu krn mengingat dosa2nya;
Siapa tahu...
Yg menawan itu krn bersih hati & fikirannya;
Siapa tahu...
Yg ceria itu krn cerdas fikirannya & senantiasa mengingat ALLAH..
Siapa tahu..
Yg sering ikut kajian/ta'lim itu krn merasa masih kurang ilmu...
Sahabat...
Mari....
Hilangkan fikiran negatif....
Kembangkan energi positif...
Biasakan berfikir positif..
Berikan seribu alasan kebaikan kpd sahabat..
Agar hidup ini lebih inspiratif
Semoga Bermanfaat..
Tetap tersenyum & tetap SEMANGAT memperbaiki hati .

Ayatullah Al Uzma Ali Khameneh’i: syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.
Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Al- Uzma Ali Khameneh’i di pertemuannya
dengan para pengurus haji tahun ini mengatakan: Tokoh-tokoh Syiah
seperti Imam Khumaini ra senantiasa menekankan persatuan umat Islam.
Karena itu, syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan
Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah
yang sesungguhnya.
Tapi kemudian muncul pertanyaan media massa apa yang dimaksud oleh pemimpin Revolusi Islam ini? Memang berapa tahun terakhir ini telah muncul berbagai media massa yang mengatasnamakan Syiah dan bermaksud memecah belah umat Islam. Berikut ini kami akan menyebutkan tiga di antanya:
Tapi kemudian muncul pertanyaan media massa apa yang dimaksud oleh pemimpin Revolusi Islam ini? Memang berapa tahun terakhir ini telah muncul berbagai media massa yang mengatasnamakan Syiah dan bermaksud memecah belah umat Islam. Berikut ini kami akan menyebutkan tiga di antanya:
Inilah Syiah Palsu Bikinan Inggris dan Amerika
1. Stasiun TV Ahle Bait

Sengaja kota suci Qom dipilih sebagai pusat pendirian stasiun ini dan nama suci Ahli Bait dipilih sebagai namanya. Orang Afgan bernama Hasan Allahyari yang menjadi direkturnya. Sejak awal lahirnya, stasiun TV ini menonjolkan perbedaan antar mazhab Islam, menekankan kelangsungan acara duka Fathimiyah yang diberi nama Acara Muhsiniyah, dan menyelenggarakan acara pesta Idul Zahra yang bersamaan dengan kematian Khalifah Umar bin Khathab.
Allahyari berusaha menyatakan bahwa stasiun TV ini didukung oleh para marjik taklid, tapi pernyataan ini ditolak tegas oleh mereka, bahkan Ayatullah Qurbanali Muhaqiq Kabuli marjik taklid Afganistan yang tinggal di Qom dan yang semula mendukung stasiun ini setahun setelah mengetahui substansinya yang memecah belah umat mengeluarkan pernyataan resmi tentang pentingnya persatuan umat Islam, dalam pernyataan itu dia menegaskan, ‘Kepada seluruh pengikut Ahli Bait as dan Syiah mereka yang sesungguhnya kami mohon dengan sangat untuk sama sekali tidak memberikan bantuan materi dan maknawi kepada stasiun TV parabola Ahli Bait. Menurut kami, pemberian bantuan syar’i –apa pun namanya- kepada stasiun ini atau stasiun-stasiun serupa dan acara lain –apa pun namanya- yang beraktivitas memecah belah umat bukan hanya tidak sah menurut syariat Islam, bahkan terhitung sebagai perbuatan membantu tindakan dosa dan melampaui batas.’
Pandangan Politik Allahyari
Supaya orientasi stasiun ini diketahui lebih jelas, ada baiknya kami menyebutkan pandangan politik Allahyari selaku direkturnya. Antara lain:
1. Mengobarkan perpecahan antara Syiah dan Sunni.
2. Mendukung slogan ‘Tidak Gaza tidak pula Libanon’ dengan dalih yang harus kita bebaskan terlebih dulu adalah Baqi’.
3. Menjauhkan orang-orang Syiah dari marjik-marjik taklid; menurut direktur stasiun TV ini, tidak ada satu pun dari marjik taklid Syiah yang adil. Bahkan berulangkali dia melecehkan Ayatullah Uzma Imam Khumaini, Ayatullah Uzma Khameneh’i, Ayatullah Uzma Makarim Syirazi, dan Ayatullah Uzma Behjat.
4. Menghantam Negara Republik Islam Iran dan menjatuhkan citranya sebagai pendukung Kaum Mustadafin menjadi musuh Ahli Bait!
5. Membanding-bandingkan pemerintah Imam Khumaini ra dengan pemerintahan Dinasti Abbasi.
6. Membela Amerika dengan alasan kebebasan berekspresi yang dijunjung di negeri ini.
Hasan Allahyari ini sendiri berdomisili di Amerika. Perlu diketahui bahwa di Amerika ada undang-undang stasiun TV parabola yang isinya apabila sebuah stasiun TV melakukan pelecehan terhadap hal-hal yang sakral menurut kelompok mazhab, pemikiran atau sosial tertentu maka stasiun itu dibubarkan dan surat izinnya dicabut. Tapi kenapa stasiun bernama Ahle Bait yang isinya tidak keluar dari pelecehan ini tidak dibubarkan dan dicabut surat izinnya?! Bukankah itu tidak lain karena stasiun TV ini menentang Republik Islam Iran dan memecah belah umat Islam?!
Keyakinan Atas Dasar Pemikiran Kelompok Hujatiyah
Keyakinan dan kata-kata Allahyari cocok sekali dengan pemikiran kelompok Hujatiyah. Menurutnya, orang-prang Syiah tidak boleh berbuat apa-apa –gerakan reformasi Islam, kesadaran Islam dan sebagainya-, melainkan mereka hanya boleh menanti secara pasif sampai kedatangan Imam Mahdi af.
Stasiun TV ini menyebarluaskan upacara pukul kepala dan badan dengan senjata tajam demi memperingati perjuangan Imam Husain as. Padahal, para ulama Syiah seperti Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i melarangnya.
Target stasiun TV ini adalah mengarahkan orang-orang Syiah pada pemikiran Kelompok Hujatiyah yang juga merupakan produk Inggris dan Amerika; karena itu inti aktivitasnya adalah mencaci maki Ahli Sunnah, bahkan mengelurkan fatwa hukuman mati untuk orang-orang sunni. Sekarang pun kita dapat menyaksikan berbagai pelecehan dan penghinaan dari pihak Allahyari dan stasiun TV-nya yang diberi nama suci Ahli Bait. Dengan cara ini dia ingin memecah belah antara saudara muslim Syiah dan Ahli Sunnah.
Stasiun Produk Gedung Putih
Berapa waktu lalu, Hujatul Islam Nabawi deputi Badan Tablig Hauzah Ilmiah Qom membeberkan data-data yang membuktikan aktivitas Amerika di balik Stasiun TV Ahle Bait, dia mengatakan, ‘Tujuan Stasiun yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Syiah dan penyebaran ajaran Ahli Bait as ini adalah pencitraan buruk Mazhab Syiah.’
Karena sensitivitas yang terus meningkat terhadap stasiun TV ini, pengadilan istimewa Ruhaniah di Qom memutuskan hukum penyegelan kantor stasiun TV itu. Keputusan ini menyebabkan para aktor di balik stasiun ini mencaci maki ulama Islam dan pula Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i. Mereka menyebut sistem pemerintahan Islam Iran sebagai pendukung Ahli Sunnah dan mengklaimnya sebagai sistem yang hendak melemahkan Mazhab Syiah Ahli Bait as. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh Kelompok Hujatiyah menggugat kebebasan kelompok Ahli Sunnah untuk bertindak di Iran dan menuntut dukungan terhadap stasiun TV Ahli Bait.
2. Stasiun TV Salaam; Islam Minus Politik & Politik Minus Islam
Berapa tahun yang lalu, jarang sekali orang yang menyeriusi bahaya Islam Amerika yang bersembunyi di balik gaun tablig Syiah dan menyusup di tengah barisan pengikut Ahli Bait as. Tapi sekarang, setelah tampaknya jalinan erat antara Stasiun ini dengan gelombang politk dan anti keamanan, jarang orang yang tidak mengerti bahwa stasiun TV Salaam bekerja untuk politik emperialis anti Islam. Lebih lagi hari-hari ini para pendukung sekularisme telah terjun langsung ke kancah politik dan menentang keras Republik Islam.
Direktur stasiun TV Salaam membentuk jaringan atas nama ‘Kelompok Ruhaniawan Tradisional Iran Kontemporer’ dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang mendukung kerusuhan-kerusuhan di Republik Islam Iran.
Dana
Ketika setiap hari kita mendengar berita baru tentang pembantasan transfer dana bagi orang-orang Iran di seluruh dunia, tapi stasiun TV Salaam malah mengumumkan sekian banyak nomor rekening di negara-negara seperti Amerika, Jerman, Australia, dan Dubai untuk menampung bantuan dana dari para pemirsanya.
Stasiun TV ini disiarkan melalui Satelit Hotbird yang tentu saja menuntut biaya sewa yang tinggi. Ditambah lagi dengan biaya pendirian dan pengelolaannya sehingga mencakup seluruh benua, itu pun dengan iklan yang sangat terbatas. Karena itu, sudah pasti stasiun TV Salaam ini memiliki sumber dana yang jauh lebih dari sekedar bantuan para pemirsa. Dan sampai sekarang, direktur dan administratornya tidak memberikan penjelasan yang transparan mengenai hal ini.
Bukan hal yang sulit untuk diketahui bahwa dolar Amerikalah yang mendanai stasiun TV Salaam dan menggaji pekerjanya. Hal itu diperkuat dengan tidak diterapkannya undang-undang pembubaran stasiun TV yang memprovokasi pertikaian antar mazhab dan melecehkan hal-hal yang sakral menurut mazhab.
Pengelabuan
Berapa waktu lalu, orang-rang dari kelompok Hujatiyah yang punya pengaruh pada stasiun TV Salaam mengimbau direkturnya untuk menambah tingkat akseptabilitas atasiun ini di tengah masyarakat dengan cara mendapatkan pernyataan dukungan dari marjik-marjik tradisional, bukan dari marjik-marjik politik. Hal itu karena di tengah masyarakat terkenal bahwa stasiun TV ini ditentang oleh para marjik. Itulah kenapa kemudian acara-acara TV ini sering menyebut nama marjik dan ruhaniawan terkenal.
Berapa tahun terakhir juga kita menyaksikan stasiun ini senantiasa berusaha keras untuk memperkenalkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai salah satu tradisi Islam, dan tentu saja acara seperti ini didukung oleh musuh-musuh Islam. Di salah satu acara itu, Muhammad Hidayati Direktur TV Salaam yang sekaligus merupakan ahli agama di Voice of Amerika mengatakan, ‘Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam ini mempunyai latar belakang yang kuat di dalam Al-Qur’an. Ruhaniawan palsu ini dengan cara memutarbalikkan ayat Al-Qur’an berusaha mengatasnamakan aksi itu sebagai ajaran Al-Qur’an.’
Tapi, begitu dangkal dan salah kaprahnya argumentasi Hidayati sampai-sampai ahli agama di kandang yang sama tidak tahan untuk diam diri dan tidak menggugatnya. Ahli agama itu bernama Mahdi Khalaji, ketika itu juga dia angkat suara menentang celotehan ruhaniawan palsu dari Washington DC itu seraya mengatakan, ‘Apa yang dikatakan oleh Hidayati betul-betul salah kaprah dan merupakan pemalsuan terhadap Al-Qur’an.’
Setelah itu, acara tetap digiring untuk menyebutkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai tradisi tua kelompok Syiah dan faktor mentalitas keberanian serta pengorbanan, karena itu menurut acara tersebut aksi ini diperbolehkan oleh pemerintah Amerika untuk diselenggarakan di sana, sehingga orang-orang Syiah dengan mudah sekali melakukan aksi itu di jalan raya-jalan raya Amerika.
Sekularisme
Salah satu kriteria stasiun TV Salaam adalah penekanan terhadap sekularisme atau pemisahan agama dari politik dan sebaliknya. Di samping itu, ia juga senantiasa menyoroti dan menjunjung para marjik taklid yang sedikit banyak bergerak melawan Revolusi Islam Iran. Ditambah lagi dengan upayanya yang tidak kenal henti untuk mengobarkan perpecahan antar mazhab dan pelecehan terhadap Ahli Sunnah.
3. Stasiun TV Fadak; Syiah Versi Peleceh Ahli Sunnah

Dalam hal pecah belah umat untuk merebut kekuasaan, Inggris memang ahlinya. Salah satu yang dilakukannya adalah mempersiapkan seorang Syiah Dua Belas Imam dengan paras dan penampilan santri atau kiai yang sangat menarik, lalu menyediakan Husainiyah untuk dia di London dengan segenap fasilitas yang dibutuhkan seperti mimbar pidato, bahkan stasiun TV dan Hauzah Ilmiah yang berfungsi sebagai media penyebarannya atas nama Syiah Sejati dan musuh pertama Wahabi.
Yasir Yahya Abdullah Alhabib direktur stasiun TV Fadak lahir pada tahun 1977 jebolan Universitas Kuwait di jurusan ilmu politik. Masih muda sekali usianya, tiga tahun setelah mendirikan ‘Yayasan Khuddam Al Mahdi’ di Kuwait sikap-sikap radikalnya memaksa pemerintah Kuwait untuk menyegel yayasannya dan memenjarakan dirinya.
Tingkah laku sembrono pemuda ini ternyata menarik perhatian Inggris; secepat kilat mereka menjadikan penangkapan Alhabib sebagai pusat perhatian badan-badan resmi HAM di Inggris dan Amerika. Aparat Kuwait sendiri pasti terkejut kenapa badan-badan resmi HAM itu memilih kiai muda ini di antara sekian tahanan di sana, tapi daripada tambah ruwet persoalannya maka belum genap tiga bulan di penjara mereka telah membebaskannya.
Kiai muda bebas dari penjara dan langsung bersahabat dengan pihak-pihak terkait di Inggris. Tak lama kemudian dia mendapat suaka dan perlindungan dari Inggris dan seketika itu pula dia pergi ke utara negeri tersebut. Tidak butuh lebih dari dua tahun tinggal di sana dia sudah berhasil domisili di London dan mengembangluaskan kegiatannya secara pesat. Terbitlah surat kabar ‘shianewspaper’, berdirilah Hauzah Ilmiah bernama ‘Imamain Askariyain’, launchinglah stasiun TV satelit Fadak dan pada tahun 2010 yayasan dia di London dipindah-kembangkan menjadi Husainiyah Sayidus Syuhada’ dan disediakan kompleks baru untuk hauzah, kantor, media surat kabar, situs, dan stasiun TV Fadak untuknya.
Ruhaniawan muda inilah yang sekarang aktif sekali di mimbar-mimbar London berpidato atas nama Syiah untuk seluruh pemirsa di dunia demi kepentingan imperialisme modern.
Api Yang Menyasar Suni dan Membakar Syiah
Supaya lebih jelas, cukup kiranya tiga tahun kita mundur ke belakang; tepatnya pada Bulan Ramadan 1431 H, tanggal 17 bulan itu yang merupakan hari kematian wafatnya Siti Aisyah istri Nabi Saw, kiai muda bayaran Inggris ini menggelar majelis di Husainiyah dan berpidato di atas mimbar dengan segala macam caci maki serta kata kotor terhadap istri nabi tersebut.
Setelah menyebutkan alasan-alasan busuknya untuk membuktikan fitnah kemunafikan dan kepestaporaan istri nabi itu, dia mengakhiri pidatonya dengan seruan strategis! seraya berkata, ‘Perayaan hari kebinasaan Aisyah adalah keniscayaan agama; karena, hari kebinasaan Aisyah merupakan hari kemenangan Islam yang agung.’ Situs kiai bayaran Inggris ini dengan penuh bangga melaporkan bahwa stasiun TV Fadak menayangkan perayaan penuh berkah ini secara penuh. Di samping itu, di bagian atas dari layar penayangan acara itu tertulis slogan ‘Allahu Akbar … Aisyah Fin Nar’, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hal seperti ini terjadi. Di sela-sela acara juga dilantunkan kasidah-kasidah kegembiraan atas apa yang mereka sebut dengan kebinasaan pucuk kekafiran Aisyah dan rasa syukur atas kenikmatan lepas diri dari istri Nabi Saw ini.
Fatwa Pemadam Fitnah Perpecahan
Sebelumnya, Alhabib kiai muda bayaran Inggris ini menerbitkan buku yang isinya tiada lain penghinaan dan pelecehan terhadap Siti Aisyah istri Nabi Saw, dan saat itu pula ulama dan kaum Syi’ah mengecam keras buku itu. Khususnya ulama Syi’ah di Kuwait dan Saudi Arabia, seperti Syaikh Amri, Syaikh Husain Ma’tuq, Syaikh Hasan Shaffar, Syaikh Ali Alumuhsin, Syaikh Abduljalil Samin, Syaikh Namir, dan Sayid Hasyim Salman menunjukkan sikap dan reaksi keras terhadapnya.
Tindakan kiai muda bayaran Inggris ini berhasil merusak citra Mazhab Syiah di berbagai penjuru dunia, bahkan seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdulaziz Alusyaikh mufti awal Saudi Arabia perbuatan dia telah mencegah perkembangan Mazhab Syi’ah di negara-negara Arab dan Islam serta mengembalikan orang-orang yang cenderung kepada mazhab ini ke jalan yang sebelumnya.
Sikap kiai muda bayaran Inggris ini juga berhasil mengobarkan kebencian kelompok Wahabi terhadap kelompok Syiah, sehingga para ulama papan atas Syiah sendiri kewalahan dalam meredam kebencian itu dan menciptakan perdamaian. Maka pada akhirnya, para ulama Syiah Saudi Arabia mengirimkan surat pertanyaan fatwa kepada Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i tentang masalah ini, jawaban fatwa dia menjadi pemadam fitnah perpecahan yang lebih luas. Dia berfatwa:
“Pelecehan terhadap simbol-simbol saudara Ahli Sunnah, antara lain tuduhan terhadap istri Nabi Saw adalah haram. Hal ini juga mencakup istri-istri semua nabi, khususnya Sayidul Anbiya’ Nabi Agung Muhammad Saw”
Fatwa ini langsung tersebar melalui stasiun TV Aljazira, suratkabar Al Anba’ Kuwait, situs Muhith, suratkabar Al Safir Libanon, Al Hayat London, situs radio-televisi Mesir dan lain-lain.
Syaikh Al Azhar, Ahmad Thayib di dalam surat pernyataannya bahkan memberikan reaksi yang positif sekali terhadap fatwa Pemimpin Revolusi Islam ini, dia mengatakan:
“Dengan pujian dan kerelaan hati saya telah menerima fatwa penuh berkah Imam Ali Khameneh’i mengenai pengharaman terhadap penghinaan atas sahabat Nabi ra atau pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah Saw. Fatwa ini berasal dari pengetahuan yang benar dan kesadaran yang dalam tentang bahaya apa yang telah dilakukan oleh ahli fitnah, dan ini menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh akan persatuan umat Islam. Hal yang membuat fatwa ini menjadi lebih penting daripada yang lain adalah prihal kemunculan fatwa itu dari salah seorang ulama besar muslim dan salah satu marjik taklid Syiah yang paling besar bahkan yang sekaligus merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Saya, berdasarkan posisi keilmuan dan mengingat tanggungjawab syariat yang harus dipikul, menyatakan bahwa upaya demi persatuan umat Islam adalah wajib, sedangkan perbedaan antara pengikut mazhab-mazhab Islam harus dibatasi pada tingkat perbedaan pendapat di antara ulama dan para ahli yang sekiranya tidak sampai membahayakan persatuan umat Islam. Karena Allah Swt berfirman, ‘Dan jangan kalian bertikai niscaya kalian jadi lemah dan kehilangan kekuatan, dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” [Mashreqnews – FIPMI]
Sumber: taqrib.info
Sumber : Pesantren awliya / https://syiahnews.wordpress.com/2016/01/09/inilah-syiah-palsu-bikinan-inggris-dan-amerika/
Sengaja kota suci Qom dipilih sebagai pusat pendirian stasiun ini dan nama suci Ahli Bait dipilih sebagai namanya. Orang Afgan bernama Hasan Allahyari yang menjadi direkturnya. Sejak awal lahirnya, stasiun TV ini menonjolkan perbedaan antar mazhab Islam, menekankan kelangsungan acara duka Fathimiyah yang diberi nama Acara Muhsiniyah, dan menyelenggarakan acara pesta Idul Zahra yang bersamaan dengan kematian Khalifah Umar bin Khathab.
Allahyari berusaha menyatakan bahwa stasiun TV ini didukung oleh para marjik taklid, tapi pernyataan ini ditolak tegas oleh mereka, bahkan Ayatullah Qurbanali Muhaqiq Kabuli marjik taklid Afganistan yang tinggal di Qom dan yang semula mendukung stasiun ini setahun setelah mengetahui substansinya yang memecah belah umat mengeluarkan pernyataan resmi tentang pentingnya persatuan umat Islam, dalam pernyataan itu dia menegaskan, ‘Kepada seluruh pengikut Ahli Bait as dan Syiah mereka yang sesungguhnya kami mohon dengan sangat untuk sama sekali tidak memberikan bantuan materi dan maknawi kepada stasiun TV parabola Ahli Bait. Menurut kami, pemberian bantuan syar’i –apa pun namanya- kepada stasiun ini atau stasiun-stasiun serupa dan acara lain –apa pun namanya- yang beraktivitas memecah belah umat bukan hanya tidak sah menurut syariat Islam, bahkan terhitung sebagai perbuatan membantu tindakan dosa dan melampaui batas.’
Pandangan Politik Allahyari
Supaya orientasi stasiun ini diketahui lebih jelas, ada baiknya kami menyebutkan pandangan politik Allahyari selaku direkturnya. Antara lain:
1. Mengobarkan perpecahan antara Syiah dan Sunni.
2. Mendukung slogan ‘Tidak Gaza tidak pula Libanon’ dengan dalih yang harus kita bebaskan terlebih dulu adalah Baqi’.
3. Menjauhkan orang-orang Syiah dari marjik-marjik taklid; menurut direktur stasiun TV ini, tidak ada satu pun dari marjik taklid Syiah yang adil. Bahkan berulangkali dia melecehkan Ayatullah Uzma Imam Khumaini, Ayatullah Uzma Khameneh’i, Ayatullah Uzma Makarim Syirazi, dan Ayatullah Uzma Behjat.
4. Menghantam Negara Republik Islam Iran dan menjatuhkan citranya sebagai pendukung Kaum Mustadafin menjadi musuh Ahli Bait!
5. Membanding-bandingkan pemerintah Imam Khumaini ra dengan pemerintahan Dinasti Abbasi.
6. Membela Amerika dengan alasan kebebasan berekspresi yang dijunjung di negeri ini.
Hasan Allahyari ini sendiri berdomisili di Amerika. Perlu diketahui bahwa di Amerika ada undang-undang stasiun TV parabola yang isinya apabila sebuah stasiun TV melakukan pelecehan terhadap hal-hal yang sakral menurut kelompok mazhab, pemikiran atau sosial tertentu maka stasiun itu dibubarkan dan surat izinnya dicabut. Tapi kenapa stasiun bernama Ahle Bait yang isinya tidak keluar dari pelecehan ini tidak dibubarkan dan dicabut surat izinnya?! Bukankah itu tidak lain karena stasiun TV ini menentang Republik Islam Iran dan memecah belah umat Islam?!
Keyakinan Atas Dasar Pemikiran Kelompok Hujatiyah
Keyakinan dan kata-kata Allahyari cocok sekali dengan pemikiran kelompok Hujatiyah. Menurutnya, orang-prang Syiah tidak boleh berbuat apa-apa –gerakan reformasi Islam, kesadaran Islam dan sebagainya-, melainkan mereka hanya boleh menanti secara pasif sampai kedatangan Imam Mahdi af.
Stasiun TV ini menyebarluaskan upacara pukul kepala dan badan dengan senjata tajam demi memperingati perjuangan Imam Husain as. Padahal, para ulama Syiah seperti Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i melarangnya.
Target stasiun TV ini adalah mengarahkan orang-orang Syiah pada pemikiran Kelompok Hujatiyah yang juga merupakan produk Inggris dan Amerika; karena itu inti aktivitasnya adalah mencaci maki Ahli Sunnah, bahkan mengelurkan fatwa hukuman mati untuk orang-orang sunni. Sekarang pun kita dapat menyaksikan berbagai pelecehan dan penghinaan dari pihak Allahyari dan stasiun TV-nya yang diberi nama suci Ahli Bait. Dengan cara ini dia ingin memecah belah antara saudara muslim Syiah dan Ahli Sunnah.
Stasiun Produk Gedung Putih
Berapa waktu lalu, Hujatul Islam Nabawi deputi Badan Tablig Hauzah Ilmiah Qom membeberkan data-data yang membuktikan aktivitas Amerika di balik Stasiun TV Ahle Bait, dia mengatakan, ‘Tujuan Stasiun yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Syiah dan penyebaran ajaran Ahli Bait as ini adalah pencitraan buruk Mazhab Syiah.’
Karena sensitivitas yang terus meningkat terhadap stasiun TV ini, pengadilan istimewa Ruhaniah di Qom memutuskan hukum penyegelan kantor stasiun TV itu. Keputusan ini menyebabkan para aktor di balik stasiun ini mencaci maki ulama Islam dan pula Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i. Mereka menyebut sistem pemerintahan Islam Iran sebagai pendukung Ahli Sunnah dan mengklaimnya sebagai sistem yang hendak melemahkan Mazhab Syiah Ahli Bait as. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh Kelompok Hujatiyah menggugat kebebasan kelompok Ahli Sunnah untuk bertindak di Iran dan menuntut dukungan terhadap stasiun TV Ahli Bait.
2. Stasiun TV Salaam; Islam Minus Politik & Politik Minus Islam
Berapa tahun yang lalu, jarang sekali orang yang menyeriusi bahaya Islam Amerika yang bersembunyi di balik gaun tablig Syiah dan menyusup di tengah barisan pengikut Ahli Bait as. Tapi sekarang, setelah tampaknya jalinan erat antara Stasiun ini dengan gelombang politk dan anti keamanan, jarang orang yang tidak mengerti bahwa stasiun TV Salaam bekerja untuk politik emperialis anti Islam. Lebih lagi hari-hari ini para pendukung sekularisme telah terjun langsung ke kancah politik dan menentang keras Republik Islam.
Direktur stasiun TV Salaam membentuk jaringan atas nama ‘Kelompok Ruhaniawan Tradisional Iran Kontemporer’ dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan keras yang mendukung kerusuhan-kerusuhan di Republik Islam Iran.
Dana
Ketika setiap hari kita mendengar berita baru tentang pembantasan transfer dana bagi orang-orang Iran di seluruh dunia, tapi stasiun TV Salaam malah mengumumkan sekian banyak nomor rekening di negara-negara seperti Amerika, Jerman, Australia, dan Dubai untuk menampung bantuan dana dari para pemirsanya.
Stasiun TV ini disiarkan melalui Satelit Hotbird yang tentu saja menuntut biaya sewa yang tinggi. Ditambah lagi dengan biaya pendirian dan pengelolaannya sehingga mencakup seluruh benua, itu pun dengan iklan yang sangat terbatas. Karena itu, sudah pasti stasiun TV Salaam ini memiliki sumber dana yang jauh lebih dari sekedar bantuan para pemirsa. Dan sampai sekarang, direktur dan administratornya tidak memberikan penjelasan yang transparan mengenai hal ini.
Bukan hal yang sulit untuk diketahui bahwa dolar Amerikalah yang mendanai stasiun TV Salaam dan menggaji pekerjanya. Hal itu diperkuat dengan tidak diterapkannya undang-undang pembubaran stasiun TV yang memprovokasi pertikaian antar mazhab dan melecehkan hal-hal yang sakral menurut mazhab.
Pengelabuan
Berapa waktu lalu, orang-rang dari kelompok Hujatiyah yang punya pengaruh pada stasiun TV Salaam mengimbau direkturnya untuk menambah tingkat akseptabilitas atasiun ini di tengah masyarakat dengan cara mendapatkan pernyataan dukungan dari marjik-marjik tradisional, bukan dari marjik-marjik politik. Hal itu karena di tengah masyarakat terkenal bahwa stasiun TV ini ditentang oleh para marjik. Itulah kenapa kemudian acara-acara TV ini sering menyebut nama marjik dan ruhaniawan terkenal.
Berapa tahun terakhir juga kita menyaksikan stasiun ini senantiasa berusaha keras untuk memperkenalkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai salah satu tradisi Islam, dan tentu saja acara seperti ini didukung oleh musuh-musuh Islam. Di salah satu acara itu, Muhammad Hidayati Direktur TV Salaam yang sekaligus merupakan ahli agama di Voice of Amerika mengatakan, ‘Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam ini mempunyai latar belakang yang kuat di dalam Al-Qur’an. Ruhaniawan palsu ini dengan cara memutarbalikkan ayat Al-Qur’an berusaha mengatasnamakan aksi itu sebagai ajaran Al-Qur’an.’
Tapi, begitu dangkal dan salah kaprahnya argumentasi Hidayati sampai-sampai ahli agama di kandang yang sama tidak tahan untuk diam diri dan tidak menggugatnya. Ahli agama itu bernama Mahdi Khalaji, ketika itu juga dia angkat suara menentang celotehan ruhaniawan palsu dari Washington DC itu seraya mengatakan, ‘Apa yang dikatakan oleh Hidayati betul-betul salah kaprah dan merupakan pemalsuan terhadap Al-Qur’an.’
Setelah itu, acara tetap digiring untuk menyebutkan aksi pukul kepala dan badan dengan senjata tajam sebagai tradisi tua kelompok Syiah dan faktor mentalitas keberanian serta pengorbanan, karena itu menurut acara tersebut aksi ini diperbolehkan oleh pemerintah Amerika untuk diselenggarakan di sana, sehingga orang-orang Syiah dengan mudah sekali melakukan aksi itu di jalan raya-jalan raya Amerika.
Sekularisme
Salah satu kriteria stasiun TV Salaam adalah penekanan terhadap sekularisme atau pemisahan agama dari politik dan sebaliknya. Di samping itu, ia juga senantiasa menyoroti dan menjunjung para marjik taklid yang sedikit banyak bergerak melawan Revolusi Islam Iran. Ditambah lagi dengan upayanya yang tidak kenal henti untuk mengobarkan perpecahan antar mazhab dan pelecehan terhadap Ahli Sunnah.
3. Stasiun TV Fadak; Syiah Versi Peleceh Ahli Sunnah

Dalam hal pecah belah umat untuk merebut kekuasaan, Inggris memang ahlinya. Salah satu yang dilakukannya adalah mempersiapkan seorang Syiah Dua Belas Imam dengan paras dan penampilan santri atau kiai yang sangat menarik, lalu menyediakan Husainiyah untuk dia di London dengan segenap fasilitas yang dibutuhkan seperti mimbar pidato, bahkan stasiun TV dan Hauzah Ilmiah yang berfungsi sebagai media penyebarannya atas nama Syiah Sejati dan musuh pertama Wahabi.
Yasir Yahya Abdullah Alhabib direktur stasiun TV Fadak lahir pada tahun 1977 jebolan Universitas Kuwait di jurusan ilmu politik. Masih muda sekali usianya, tiga tahun setelah mendirikan ‘Yayasan Khuddam Al Mahdi’ di Kuwait sikap-sikap radikalnya memaksa pemerintah Kuwait untuk menyegel yayasannya dan memenjarakan dirinya.
Tingkah laku sembrono pemuda ini ternyata menarik perhatian Inggris; secepat kilat mereka menjadikan penangkapan Alhabib sebagai pusat perhatian badan-badan resmi HAM di Inggris dan Amerika. Aparat Kuwait sendiri pasti terkejut kenapa badan-badan resmi HAM itu memilih kiai muda ini di antara sekian tahanan di sana, tapi daripada tambah ruwet persoalannya maka belum genap tiga bulan di penjara mereka telah membebaskannya.
Kiai muda bebas dari penjara dan langsung bersahabat dengan pihak-pihak terkait di Inggris. Tak lama kemudian dia mendapat suaka dan perlindungan dari Inggris dan seketika itu pula dia pergi ke utara negeri tersebut. Tidak butuh lebih dari dua tahun tinggal di sana dia sudah berhasil domisili di London dan mengembangluaskan kegiatannya secara pesat. Terbitlah surat kabar ‘shianewspaper’, berdirilah Hauzah Ilmiah bernama ‘Imamain Askariyain’, launchinglah stasiun TV satelit Fadak dan pada tahun 2010 yayasan dia di London dipindah-kembangkan menjadi Husainiyah Sayidus Syuhada’ dan disediakan kompleks baru untuk hauzah, kantor, media surat kabar, situs, dan stasiun TV Fadak untuknya.
Ruhaniawan muda inilah yang sekarang aktif sekali di mimbar-mimbar London berpidato atas nama Syiah untuk seluruh pemirsa di dunia demi kepentingan imperialisme modern.
Api Yang Menyasar Suni dan Membakar Syiah
Supaya lebih jelas, cukup kiranya tiga tahun kita mundur ke belakang; tepatnya pada Bulan Ramadan 1431 H, tanggal 17 bulan itu yang merupakan hari kematian wafatnya Siti Aisyah istri Nabi Saw, kiai muda bayaran Inggris ini menggelar majelis di Husainiyah dan berpidato di atas mimbar dengan segala macam caci maki serta kata kotor terhadap istri nabi tersebut.
Setelah menyebutkan alasan-alasan busuknya untuk membuktikan fitnah kemunafikan dan kepestaporaan istri nabi itu, dia mengakhiri pidatonya dengan seruan strategis! seraya berkata, ‘Perayaan hari kebinasaan Aisyah adalah keniscayaan agama; karena, hari kebinasaan Aisyah merupakan hari kemenangan Islam yang agung.’ Situs kiai bayaran Inggris ini dengan penuh bangga melaporkan bahwa stasiun TV Fadak menayangkan perayaan penuh berkah ini secara penuh. Di samping itu, di bagian atas dari layar penayangan acara itu tertulis slogan ‘Allahu Akbar … Aisyah Fin Nar’, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hal seperti ini terjadi. Di sela-sela acara juga dilantunkan kasidah-kasidah kegembiraan atas apa yang mereka sebut dengan kebinasaan pucuk kekafiran Aisyah dan rasa syukur atas kenikmatan lepas diri dari istri Nabi Saw ini.
Fatwa Pemadam Fitnah Perpecahan
Sebelumnya, Alhabib kiai muda bayaran Inggris ini menerbitkan buku yang isinya tiada lain penghinaan dan pelecehan terhadap Siti Aisyah istri Nabi Saw, dan saat itu pula ulama dan kaum Syi’ah mengecam keras buku itu. Khususnya ulama Syi’ah di Kuwait dan Saudi Arabia, seperti Syaikh Amri, Syaikh Husain Ma’tuq, Syaikh Hasan Shaffar, Syaikh Ali Alumuhsin, Syaikh Abduljalil Samin, Syaikh Namir, dan Sayid Hasyim Salman menunjukkan sikap dan reaksi keras terhadapnya.
Tindakan kiai muda bayaran Inggris ini berhasil merusak citra Mazhab Syiah di berbagai penjuru dunia, bahkan seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdulaziz Alusyaikh mufti awal Saudi Arabia perbuatan dia telah mencegah perkembangan Mazhab Syi’ah di negara-negara Arab dan Islam serta mengembalikan orang-orang yang cenderung kepada mazhab ini ke jalan yang sebelumnya.
Sikap kiai muda bayaran Inggris ini juga berhasil mengobarkan kebencian kelompok Wahabi terhadap kelompok Syiah, sehingga para ulama papan atas Syiah sendiri kewalahan dalam meredam kebencian itu dan menciptakan perdamaian. Maka pada akhirnya, para ulama Syiah Saudi Arabia mengirimkan surat pertanyaan fatwa kepada Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Uzma Ali Khameneh’i tentang masalah ini, jawaban fatwa dia menjadi pemadam fitnah perpecahan yang lebih luas. Dia berfatwa:
“Pelecehan terhadap simbol-simbol saudara Ahli Sunnah, antara lain tuduhan terhadap istri Nabi Saw adalah haram. Hal ini juga mencakup istri-istri semua nabi, khususnya Sayidul Anbiya’ Nabi Agung Muhammad Saw”
Fatwa ini langsung tersebar melalui stasiun TV Aljazira, suratkabar Al Anba’ Kuwait, situs Muhith, suratkabar Al Safir Libanon, Al Hayat London, situs radio-televisi Mesir dan lain-lain.
Syaikh Al Azhar, Ahmad Thayib di dalam surat pernyataannya bahkan memberikan reaksi yang positif sekali terhadap fatwa Pemimpin Revolusi Islam ini, dia mengatakan:
“Dengan pujian dan kerelaan hati saya telah menerima fatwa penuh berkah Imam Ali Khameneh’i mengenai pengharaman terhadap penghinaan atas sahabat Nabi ra atau pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah Saw. Fatwa ini berasal dari pengetahuan yang benar dan kesadaran yang dalam tentang bahaya apa yang telah dilakukan oleh ahli fitnah, dan ini menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh akan persatuan umat Islam. Hal yang membuat fatwa ini menjadi lebih penting daripada yang lain adalah prihal kemunculan fatwa itu dari salah seorang ulama besar muslim dan salah satu marjik taklid Syiah yang paling besar bahkan yang sekaligus merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Saya, berdasarkan posisi keilmuan dan mengingat tanggungjawab syariat yang harus dipikul, menyatakan bahwa upaya demi persatuan umat Islam adalah wajib, sedangkan perbedaan antara pengikut mazhab-mazhab Islam harus dibatasi pada tingkat perbedaan pendapat di antara ulama dan para ahli yang sekiranya tidak sampai membahayakan persatuan umat Islam. Karena Allah Swt berfirman, ‘Dan jangan kalian bertikai niscaya kalian jadi lemah dan kehilangan kekuatan, dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” [Mashreqnews – FIPMI]
Sumber: taqrib.info
Syi'ah dan Sunni itu ada Syi'ah Takfiri dan Sunni Takfiri kalau wahabi jelas dan PASTI takfiri, kiblat islam sekarang ada 3, Islam Sunni yang diwakili Sunni Syafe'i ala Indonesia dan dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Indonesia (CINTA HAUL, MAULID, TAWASSUL, ZIARAH KUBUR), Islam Syi'ah yang diwakili Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari dan dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Islam Iran (CINTA HAUL, MAULID, TAWASSUL, ZIARAH KUBUR) serta "Islam" wahabi yang dianut mayoritas pemerintah kerajaan arab saudi wahabi salafi takfiri pendukung teroris isis (BENCI HAUL, MAULID, TAWASSUL, ZIARAH KUBUR).... jadi pilih yang mana ??? Pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam seperti wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi atau penebar kedamaian seperti Republik Indonesia dan Republik Islam Iran ???
Dana yang dikeluarkan untuk membiayai kelompok-kelompok tersebut berasal dari saku yang sama...
Dalam video ini juga disertakan ceramah singkat dari pemimpin tertinggi Republik Islam Iran dan sekjen Hizbuah Libanon Sayyid Hasan Nasrullah yang keduanya mengungkap serta membongkar makar dan rencana musuh dalam menciptakan kelompok-kelompok Takfiri tersebut.
Selamat menyimak... klik di https://www.youtube.com/watch?v=DmgdLzx_Q3o
Dalam kesempatan yang sama, Syaikh Al-Assalah juga sangat mengapresiasi sikap dua tokoh besar dan penting yang merupakan dua ulama rujukan di dalam madrasah Syiah Ahlulbait Nabi saw, yaitu Ayatullah Ali Khamenei dan Ayatullah Sayyid Ali Sistani, yang mengecam perilaku orang-orang yang menyimpang dari ajaran mazhab Syiah yang selalu melancarkan celaan terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Saw. Selamat menyimak di https://www.youtube.com/watch?v=-JamkA4q7qI
Grand Syaikh Al-Azhar, di dalam sambutannya di acara pembukaan konferensi tersebut, Jumat (26/08/2016), menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mazhab Al-As’ariy, Al-Maturidi, Ash-Shufiyyah, dan Ahlulhadist yang kesemuanya tidak sembarangan dalam mengkafirkan, membid’ahkan, dan memfasikkan kaum Muslimin dari mazhab lain.
Imam Besar Al-Azhar ini mengecam kelompok-kelompok yang senang melakukan kejahatan dan menebarkan kebencian atasnama Ahlussunnah dan Salaf, seraya menyatakan bahwa Ahlusunnah Wal Jamaah berlepas diri dari kelompok-kelompok tersebut. Masih banyak lagi hal yang telah disampaikan oleh Grand Syaikh saat pembukaan konferensi ini. Untuk lengkapnya, saksikan video berikut ini. klik di https://www.youtube.com/watch?v=xpeqyKNUkgE&t=59s
Bahkan bukan hanya merupakan dua sayap untuk Islam, melainkan juga Sunnah - Syiah bersaudara dalam satu agama, demikian pernyataannya di hadapan parlemen Jerman, pada tanggal 15/03/2016. Selamat menyimak, klik di https://www.youtube.com/watch?v=RToFwstRJ6s&t=46s

Republik Islam Iran dan Syiah Takfiri
MetroIslam.com – Meski tidak sedikit yang menolak,
Syekh Tawhidi, ulama Syiah ‘kontroversial’ yang dilaporkan berasal dari
Australia ini sempat mendarat di Indonesia pada awal Oktober 2015.
Dakwahnya yang dinilai bertentangan dengan kebhinekaan membuat dua ormas
Syiah di Indonesia pun menolak kehadirannya. Sikap ekstrim di kalangan
Syiah sendiri telah menjadi sorotan para ulama otoritatif Syiah
khususnya di Iran.
Di Qum misalnya, pada Ferbruari lalu, ulama dan cendikawan Muslim dari berbagai negara duduk bersama untuk membahas metode pendekatan (taqrib) di antara mazhab-mazhab Islam. Forum internasional yang sepenuhnya dibiayai Republik Islam Iran itu menandakan perhatian yang serius pada masalah ekstremisme dalam mazhab-mazhab Islam, khususnya Syiah.
Tampil sebagai keynote speaker, Ayatullah Muhsin Araki, tanpa tedeng aling-aling langsung melayangkan kritik pedas pada kelompok yang disebut sebagai ‘Syiah Ekstrimis’. Selain menyerang simbol-simbol yang dihormati oleh Sunni, Syiah ekstremis ini juga gemar melakukan “tathbir”, yaitu upacara memukul kepala mereka sendiri dengan benda tajam yang menyebabkan darah mengalir dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husain. Menurut Araki, sikap dan perilaku Syiah ekstrimis itu ingin menggiring umat Islam pada perpecahan dan menggambarkan Syiah sebagai ajaran ekstrim di mata dunia. Bagi Araki, kelompok Syoah ekstrimis yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan Inggris ini ingin membuat Syiah sama ekstrimnya dengan kelompok ultra puritan seperti Islamic State (ISIS).
Menurut laporan situs Al Monitor, orang-orang yang dimaksud dengan ‘Syiah Ekstrimis” oleh Araki ialah mereka yang tergabung dalam ‘Shirazian’. Kelompok ini merujuk pada para pengikut Ayatullah Shadiq Shirazi, ulama kelahiran Karbala yang saat ini berdomisili di Qom dan megasuh 19 TV satelit dalam bahasa Persia, Arab, Inggris dan Turki. Sebagian TV itu memiliki pusat stasiun siaran di Inggris, seperti TV Khadijah di Peterborough dan TV Al Zahra di Harrow, London, Inggris. Tak ayal, mereka pun disebut sebagai “Syiah MI6” sehubungan dengan sebagian mesin dakwahnya yang disokong oleh London. MI6 merupakan sebutan buat badan intelijen rahasia terkemuka Inggris.
Melalui semua TV satelit yang bisa diakses dari berbagai negara itu, Shirazian secara terang-terangan ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi–suatu sikap yang diharamkan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dalam pidatonya pada September 2013, Ali Khamenei yang juga marja’ Syiah ini menyebut “Syiah MI6” ini sebagai salah satu musuh Iran di samping AS dan Israel. Menyinggung mereka yang senantiasa menumpahkan bensin untuk membakar konflik Sunni-Syiah, Khamenei megatakan “Syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.”
Pengikut Shirazian yang termasuk anti pemerintahan Islam Iran itu sebenarnya memiliki latar belakang sejak Iran masih di bawah rezim Syah. Ketika masa pengasingan di Irak karena menentang rezim Syah, Imam Khomeini sempat ke Karbala, tempat Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, dimakamkan. Tidak seperti kebanyakan ulama Irak yang tidak suka pada Khomeini, kakak Shadiq Shirazi yang bernama Ayatullah Muhammad Shirazi yang tinggal di Karbala menerima Khomeini dengan tangan terbuka. Sikap baik Shirazi ini diketahui Khomeini bertujuan untuk memanfaatkan dirinya dalam persaingan antara Karbala dan Najaf sebagai pusat Syiah di Irak. Alih-alih tinggal di Karbala, Khomeini akhirnya memutuskan untuk tinggal di Najaf. Sikap inilah yang lantas membuat Shirazi kecewa.
Ketika intimidasi rezim Saddam pada Syiah kian buas, Shirazi mengungsi ke Qum, Iran. Pasca tumbangnya rezim Syah, obsesi Shirazi untuk mendapatkan bagian kekuasaan pada pemerintahan baru diketahui oleh Khomeini. “Imam Khomeini sangat cerdas dan memahami politik di hauzah-hauzah (pesantren)” kata Mehdi Khalaji, anggota senior di Washington Institute untuk kebijakan Timur Tengah. “Dia tahu nama dan kredibilitas Shirazi tidak baik di mata kebanyakan warga Qom maupun Najaf. Agaknya pengucilan ini memperkuat sikap pengikut Shirazian untuk menjadi oposisi pemerintahan bentukan Khomeini hingga kini.”
Adalah wajar jika Khamenei menyebut ‘Syiah MI6’ ini musuh Iran yang tidak kalah bahayanya dengan AS dan Israel. Dalam perjalanan kepemimpinan Khamenei, Shirazian pernah terlibat dalam apa yang disebut dengan ‘revolusi hijau’ pada pemilu 2009 di Iran. Meski Shirazi menjadi tahanan rumah, tapi jaringan internasional pengikutnya cukup membuat Iran kerepotan melawan mereka. Ketika pemerintahan Iran mendukung program Pekan Persatuan Sunni-Syiah, program berbagai jaringan TV Shirazi yang disokong Barat itu justru mengkampanyekan apa yang mereka sebut dengan Pekan Bara’ah. Meminjam istilah dalam Al-Qur’an, Bara’ah diartikan sebagai ‘berlepas diri’ atau memutus hubungan dengan mereka yang dianggap kafir, termasuk sebagian sahabat yang dihormati mayoritas umat Islam.
Salah satu TV jaringan Shirazi adalah TV Salam yang disiarkan dari California. TV ini kerap mengkampanyekan slogan kemurnian Islam, mirip dengan kampanye kaum ultra puritan ‘Salafi’. TV Salam, di bawah asuhan Mohammad Hidayati, menyerang Khomeini bukan karena dianggap politkus fundamentalis tapi disebabkan dia membuat Islam (baca: Syiah) jauh dari “kemurniannya”. Bagi Hidayati, yang kerab muncul di program VOA, Khomeini dan penggantinya Khamenei telah mencampur aduk Islam dengan ajaran tasawuf dan filsafat. Dari London, Ayatullah Mujtaba Shirazi, adik Shadiq yang kini menetap di London, dan menantunya Yasser Habib, tidak jarang tampi di TV Fadak untuk ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi. Yasser Habib, yang dikenal dengan bukunya “Prostitute: The Other Face of Aisha”, memusatkan aktivitas dakwah ekstremisnya di London setelah diusir dari tanah airnya, Kuwait, karena menyebarkan propaganda anti-Sunni.
Di Zurich, Muhammad Ahmadi, salah satu pendukung Shirazi, menolak tuduhan “menyerang Sunni” dan mengklaim tuduhan itu sebagai ‘pernyataan propaganda’. Bagi pria kelahiran Isfahan-Iran ini, Shirazi percaya pada “koalisi politik tapi tidak dengan teori persatuan” dengan Sunni. Kelompok seperti Shirazi ini, menurut Mehdi Khalaji, tetap akan sulit diterima oleh mayoritas masyarakat Iran dan arus utama Syiah karena sikapnya yang tidak moderat dan ‘anti-modernisme’. Stasiun TV Shirazi, misalnya, tidak pernah memberi ruang bagi perempuan untuk tampil di publik. Demikian juga mereka sepenuhnya menolak program-program kesenian seperti musik. Pada tahun lalu mereka ikut dalam pemilu di Irak tetapi gagal meraih walau hanya satu kursi, bahkan di Karbala yang menjadi basis politik gerakan ini sekalipun.
Source: www.beritaprotes.com / http://metroislam.com/iran-dan-syiah-takfiri/
Mengklaim sebagai Syiah namun mencaci tokoh besar Ahlusunnah sejatinya Syiah palsu buatan agen intelijen Inggris.
“Mengusik perasaan mazhab Muslim lainnya atas nama Syiah, yang sejatinya “Syiah Inggris”, telah melahirkan tindak kejahatan sebagaimana kelompok prajurit bayaran afiliasi Amerika Serikat dan agen intelijen Inggris, seperti ISIS dan Front an-Nusra,” kata Imam Khamenei dalam sebuah acara di Tehran seperti dikutip Press TV, Selasa 20/9.
Muhsin Araki (Ulama Syiah Iran) Hujat Penghina Simbol-Simbol Sunni
Di tempat berbeda, ulama otoritatif Iran Muhsin Araki, tanpa tedeng aling-aling melayangkan kritik pedas pada kelompok yang mengklaim dirinya Syiah namun menyerang simbol-simbol yang dihormati oleh Sunni.
Selain menghujat para sahabat Nabi, kata Araki, mereka juga gemar melakukan “tathbir”, yaitu upacara memukul kepala mereka sendiri dengan benda tajam yang menyebabkan darah mengalir dalam rangka haul Imam Husain.
Menurut Araki, sikap dan perilaku para ekstrimis itu ingin menggiring umat Islam pada perpecahan dan menggambarkan Syiah sebagai ajaran ekstrim di mata dunia. Senada dengan Ali Khamenei, Araki menyebut kelompok yang berbasis di Amerika Serikat dan Inggris ini ingin membuat Syiah sama ekstrimnya dengan kelompok ultra puritan seperti ISIS dan an-Nusra.
Seperti diketahui, dengan dalih mengkafirkan orang-orang yang tidak mengikuti ajaran mereka, ISIS dan front an-Nusra – cabang Al-Qaeda di Suriah, yang baru saja mengganti nama dan mengklaim telah berpisah dari induknya, – mementaskan bentuk kriminal bengis terutama di Suriah dan Irak.
Menurut laporan situs Al Monitor, orang-orang yang dimaksud dengan “ekstrimis” oleh Araki ialah mereka yang tergabung dalam ‘Shirazian’. Kelompok ini merujuk pada para pengikut Shadiq Shirazi yang megasuh 19 TV satelit dalam bahasa Persia, Arab, Inggris dan Turki.
Sebagian TV itu memiliki pusat stasiun siaran di Inggris, seperti TV Khadijah di Peterborough dan TV Al Zahra di Harrow, London, Inggris. Tak ayal, mereka pun disebut sebagai “Syiah MI6” sehubungan dengan sebagian mesin dakwahnya yang disokong oleh London. MI6 merupakan sebutan buat badan intelijen rahasia terkemuka Inggris.
Melalui semua TV satelit yang bisa diakses dari berbagai negara itu, Shirazian secara terang-terangan ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi–suatu sikap yang diharamkan oleh pemimpin tertinggi Iran, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Khamenei menyebut “Syiah MI6” ini sebagai salah satu musuh Iran di samping AS dan Israel. Menyinggung mereka yang senantiasa menumpahkan bensin untuk membakar konflik Sunni-Syiah, Khamenei megatakan, “Syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.”
Sumber : IslamIndonesia.id / https://syiahmenjawab.com/imam-ali-khamenei-mengusik-mazhab-islam-lain-ciri-syiah-inggris/
Pendiri situs anti-kerahasiaan WikiLeaks, Julian Assange, membocorkan informasi bahwa Amerika Serikat (AS) mencoba menggulingkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad, sejak 2006. Salah satu caranya dengan mengadu dan menciptakan ketegangan antara kaum Sunni dan Syiah.
Menurut Assange, strategi adu domba Amerika Serikat ini dilaksanakan untuk memprovokasi Pemerintah Assad. Whistleblower yang sedang bersembunyi di Kedutaan Ekuador yang berlokasi di London-Inggris itu mengungkapkannya dalam sebuah dokumenter yang disiarkan hari Minggu di stasiun televisi Rossiya1.
Boss WikiLeaks itu menyatakan bahwa, Washington sedang berusaha untuk membuat Pemerintah Suriah paranoid. ”Dan mendapatkan reaksi berlebihan,” katanya, yang menambahkan bahwa AS menciptakan ketegangan antara Sunni dan Syiah.
Assange mengklaim bahwa anggota pasukan udara AS, Inggris dan Prancis pernah bertemu dengan perwakilan dari Stratfor, sebuah perusahaan intelijen global sebelum Desember 2011. Para pejabat menyatakan bahwa sudah ada agen khusus yang bertindak di Suriah, tapi mereka membutuhkan kemarahan besar untuk memicu pertumpahan darah. Mereka membutuhkan alasan yang signifikan guna menyerang sistem pertahanan udara Suriah.
Suriah telah dilanda perang saudara sejak 2011, di mana pasukan rezim Assad memerangi beberapa pasukan faksi oposisi dan kelompok-kelompok militan radikal. Konflik di Suriah semakin parah, setelah muncul kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Seperti dilansir CNN (21/12/2015) - Negara-negara Barat dan beberapa Negara Timur Tengah tidak menganggap Assad sebagai pemimpin otoritas yang sah dari Suriah. Sementara Rusia, salah satu sekutu Assad, menilai bahwa Assad harus tetap memimpin Suriah.
Pada tahun 2011, Washington memberlakukan sanksi terhadap Assad dengan harapan bahwa ia akan mengundurkan diri. Tapi, sampai saat ini Assad masih berkuasa, terutama sejak ditolong sekutunya, Rusia.
Suriah pada 2014 juga pernah menggelar Pemilu di mana Assad terpilih lagi menjadi Presiden setelah menang telak dengan perolehan suara 88,7 persen. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap Pemilu itu sebagai lelucon.[metroIslam] / http://pkspuyenganonline.blogspot.co.id/2016/02/adu-domba-sunni-syiah-adalah-strategi.html
Teheran, LiputanIslam.com –
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei
menegaskan bahwa persatuan umat Islam sekarang adalah kebutuhan nomor
satu di dunia Islam. Sebagaimana dilaporkan Alalam, hal ini dia
kemukakan dalam kata sambutannya saat menerima kunjungan para peserta
Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-28 di Teheran, Jumat
(9/1/2015).
“Bersanding saja umat Islam satu sama lain sudah cukup untuk memberikan jatidiri kepada dunia Islam dan menciptakan keagungan bagi umat Islam,” katanya.
Dia mengaku prihatian menyaksikan keberhasilan konspirasi musuh Islam dalam menciptakan perpecahan di tengah umat Islam.
Menurutnya, seandainya kepedulian bangsa-bangsa Muslim dengan fasilitas dan potensinya yang sedemikian besar dan istimewa tercurahkan kepada persoalan-persoalan yang general dan primer, bukan pada persoalan-persoalan sekunder, niscaya wibawa umat Islam sudah terangkat di mata dunia.
Lebih lanjut dia menyebutkan bahwa orang-orang Sunni ataupun Syiah yang menjalin relasi dengan badan intelijen Inggris dan Amerika Serikat (AS) sama-sama telah bertindak anti Islam.
“Syiah yang menjalin hubungan dengan aparat intelijen Inggris tak patut disebut Syiah, demikian pula Sunni yang menjalin hubungan dengan intelijen AS tak patut disebut Sunni. Kedunya sama-sama musuh Islam,” tegasnya.
Khamenei menilai sebagian negara di Timur Tengah membangun kebijakan politik luar negeri berdasar sentimen anti Iran.
“Ini merupakan kesalah besar dan bertentangan dengan akal, kebijaksanaan dan logika… Tak seperti mereka, Iran membangun kebijakan politiknya berdasarkan semangat persahabatan dengan bangsa-bangsa Muslim dan negara-negara jiran,” ungkapnya.
Dia menambahkan, “Ketika kubu arogan dunia berusaha menebar Islamfobia dan menodai citra Islam yang suci, bukankah pernyataan-pernyataan yang menimbulkan perpecahan dan tindakan saling menodai citra sesama umat Islam bertentangan hikmat, akal dan siasat?” (mm) / http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/khamenei-syiah-di-irak-dan-sunni-di-amerika-sama-sama-musuh-islam/
Di Qum misalnya, pada Ferbruari lalu, ulama dan cendikawan Muslim dari berbagai negara duduk bersama untuk membahas metode pendekatan (taqrib) di antara mazhab-mazhab Islam. Forum internasional yang sepenuhnya dibiayai Republik Islam Iran itu menandakan perhatian yang serius pada masalah ekstremisme dalam mazhab-mazhab Islam, khususnya Syiah.
Tampil sebagai keynote speaker, Ayatullah Muhsin Araki, tanpa tedeng aling-aling langsung melayangkan kritik pedas pada kelompok yang disebut sebagai ‘Syiah Ekstrimis’. Selain menyerang simbol-simbol yang dihormati oleh Sunni, Syiah ekstremis ini juga gemar melakukan “tathbir”, yaitu upacara memukul kepala mereka sendiri dengan benda tajam yang menyebabkan darah mengalir dalam rangka memperingati wafatnya Imam Husain. Menurut Araki, sikap dan perilaku Syiah ekstrimis itu ingin menggiring umat Islam pada perpecahan dan menggambarkan Syiah sebagai ajaran ekstrim di mata dunia. Bagi Araki, kelompok Syoah ekstrimis yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan Inggris ini ingin membuat Syiah sama ekstrimnya dengan kelompok ultra puritan seperti Islamic State (ISIS).
Menurut laporan situs Al Monitor, orang-orang yang dimaksud dengan ‘Syiah Ekstrimis” oleh Araki ialah mereka yang tergabung dalam ‘Shirazian’. Kelompok ini merujuk pada para pengikut Ayatullah Shadiq Shirazi, ulama kelahiran Karbala yang saat ini berdomisili di Qom dan megasuh 19 TV satelit dalam bahasa Persia, Arab, Inggris dan Turki. Sebagian TV itu memiliki pusat stasiun siaran di Inggris, seperti TV Khadijah di Peterborough dan TV Al Zahra di Harrow, London, Inggris. Tak ayal, mereka pun disebut sebagai “Syiah MI6” sehubungan dengan sebagian mesin dakwahnya yang disokong oleh London. MI6 merupakan sebutan buat badan intelijen rahasia terkemuka Inggris.
Melalui semua TV satelit yang bisa diakses dari berbagai negara itu, Shirazian secara terang-terangan ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi–suatu sikap yang diharamkan oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dalam pidatonya pada September 2013, Ali Khamenei yang juga marja’ Syiah ini menyebut “Syiah MI6” ini sebagai salah satu musuh Iran di samping AS dan Israel. Menyinggung mereka yang senantiasa menumpahkan bensin untuk membakar konflik Sunni-Syiah, Khamenei megatakan “Syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.”
Pengikut Shirazian yang termasuk anti pemerintahan Islam Iran itu sebenarnya memiliki latar belakang sejak Iran masih di bawah rezim Syah. Ketika masa pengasingan di Irak karena menentang rezim Syah, Imam Khomeini sempat ke Karbala, tempat Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, dimakamkan. Tidak seperti kebanyakan ulama Irak yang tidak suka pada Khomeini, kakak Shadiq Shirazi yang bernama Ayatullah Muhammad Shirazi yang tinggal di Karbala menerima Khomeini dengan tangan terbuka. Sikap baik Shirazi ini diketahui Khomeini bertujuan untuk memanfaatkan dirinya dalam persaingan antara Karbala dan Najaf sebagai pusat Syiah di Irak. Alih-alih tinggal di Karbala, Khomeini akhirnya memutuskan untuk tinggal di Najaf. Sikap inilah yang lantas membuat Shirazi kecewa.
Ketika intimidasi rezim Saddam pada Syiah kian buas, Shirazi mengungsi ke Qum, Iran. Pasca tumbangnya rezim Syah, obsesi Shirazi untuk mendapatkan bagian kekuasaan pada pemerintahan baru diketahui oleh Khomeini. “Imam Khomeini sangat cerdas dan memahami politik di hauzah-hauzah (pesantren)” kata Mehdi Khalaji, anggota senior di Washington Institute untuk kebijakan Timur Tengah. “Dia tahu nama dan kredibilitas Shirazi tidak baik di mata kebanyakan warga Qom maupun Najaf. Agaknya pengucilan ini memperkuat sikap pengikut Shirazian untuk menjadi oposisi pemerintahan bentukan Khomeini hingga kini.”
Adalah wajar jika Khamenei menyebut ‘Syiah MI6’ ini musuh Iran yang tidak kalah bahayanya dengan AS dan Israel. Dalam perjalanan kepemimpinan Khamenei, Shirazian pernah terlibat dalam apa yang disebut dengan ‘revolusi hijau’ pada pemilu 2009 di Iran. Meski Shirazi menjadi tahanan rumah, tapi jaringan internasional pengikutnya cukup membuat Iran kerepotan melawan mereka. Ketika pemerintahan Iran mendukung program Pekan Persatuan Sunni-Syiah, program berbagai jaringan TV Shirazi yang disokong Barat itu justru mengkampanyekan apa yang mereka sebut dengan Pekan Bara’ah. Meminjam istilah dalam Al-Qur’an, Bara’ah diartikan sebagai ‘berlepas diri’ atau memutus hubungan dengan mereka yang dianggap kafir, termasuk sebagian sahabat yang dihormati mayoritas umat Islam.
Salah satu TV jaringan Shirazi adalah TV Salam yang disiarkan dari California. TV ini kerap mengkampanyekan slogan kemurnian Islam, mirip dengan kampanye kaum ultra puritan ‘Salafi’. TV Salam, di bawah asuhan Mohammad Hidayati, menyerang Khomeini bukan karena dianggap politkus fundamentalis tapi disebabkan dia membuat Islam (baca: Syiah) jauh dari “kemurniannya”. Bagi Hidayati, yang kerab muncul di program VOA, Khomeini dan penggantinya Khamenei telah mencampur aduk Islam dengan ajaran tasawuf dan filsafat. Dari London, Ayatullah Mujtaba Shirazi, adik Shadiq yang kini menetap di London, dan menantunya Yasser Habib, tidak jarang tampi di TV Fadak untuk ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi. Yasser Habib, yang dikenal dengan bukunya “Prostitute: The Other Face of Aisha”, memusatkan aktivitas dakwah ekstremisnya di London setelah diusir dari tanah airnya, Kuwait, karena menyebarkan propaganda anti-Sunni.
Di Zurich, Muhammad Ahmadi, salah satu pendukung Shirazi, menolak tuduhan “menyerang Sunni” dan mengklaim tuduhan itu sebagai ‘pernyataan propaganda’. Bagi pria kelahiran Isfahan-Iran ini, Shirazi percaya pada “koalisi politik tapi tidak dengan teori persatuan” dengan Sunni. Kelompok seperti Shirazi ini, menurut Mehdi Khalaji, tetap akan sulit diterima oleh mayoritas masyarakat Iran dan arus utama Syiah karena sikapnya yang tidak moderat dan ‘anti-modernisme’. Stasiun TV Shirazi, misalnya, tidak pernah memberi ruang bagi perempuan untuk tampil di publik. Demikian juga mereka sepenuhnya menolak program-program kesenian seperti musik. Pada tahun lalu mereka ikut dalam pemilu di Irak tetapi gagal meraih walau hanya satu kursi, bahkan di Karbala yang menjadi basis politik gerakan ini sekalipun.
Source: www.beritaprotes.com / http://metroislam.com/iran-dan-syiah-takfiri/
Imam Ali Khamenei : Mengusik Mazhab Islam Lain, Ciri “Syiah Inggris”
“Mengusik perasaan mazhab Muslim lainnya atas nama Syiah, sejatinya adalah “Syiah Inggris” .- Imam Ali Khamenei –Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengatakan, kelompok yang menyebut dirinya Muslim Syiah namun menghujat simbol-simbol mazhab Islam lainnya, mereka tidak kurang bahayanya dengan kejahatan yang dilakukan kelompok ekstrimisme seperti ISIS dan Front an-Nusra.
Mengklaim sebagai Syiah namun mencaci tokoh besar Ahlusunnah sejatinya Syiah palsu buatan agen intelijen Inggris.
“Mengusik perasaan mazhab Muslim lainnya atas nama Syiah, yang sejatinya “Syiah Inggris”, telah melahirkan tindak kejahatan sebagaimana kelompok prajurit bayaran afiliasi Amerika Serikat dan agen intelijen Inggris, seperti ISIS dan Front an-Nusra,” kata Imam Khamenei dalam sebuah acara di Tehran seperti dikutip Press TV, Selasa 20/9.
Muhsin Araki (Ulama Syiah Iran) Hujat Penghina Simbol-Simbol Sunni
Di tempat berbeda, ulama otoritatif Iran Muhsin Araki, tanpa tedeng aling-aling melayangkan kritik pedas pada kelompok yang mengklaim dirinya Syiah namun menyerang simbol-simbol yang dihormati oleh Sunni.
Selain menghujat para sahabat Nabi, kata Araki, mereka juga gemar melakukan “tathbir”, yaitu upacara memukul kepala mereka sendiri dengan benda tajam yang menyebabkan darah mengalir dalam rangka haul Imam Husain.
Menurut Araki, sikap dan perilaku para ekstrimis itu ingin menggiring umat Islam pada perpecahan dan menggambarkan Syiah sebagai ajaran ekstrim di mata dunia. Senada dengan Ali Khamenei, Araki menyebut kelompok yang berbasis di Amerika Serikat dan Inggris ini ingin membuat Syiah sama ekstrimnya dengan kelompok ultra puritan seperti ISIS dan an-Nusra.
Seperti diketahui, dengan dalih mengkafirkan orang-orang yang tidak mengikuti ajaran mereka, ISIS dan front an-Nusra – cabang Al-Qaeda di Suriah, yang baru saja mengganti nama dan mengklaim telah berpisah dari induknya, – mementaskan bentuk kriminal bengis terutama di Suriah dan Irak.
Menurut laporan situs Al Monitor, orang-orang yang dimaksud dengan “ekstrimis” oleh Araki ialah mereka yang tergabung dalam ‘Shirazian’. Kelompok ini merujuk pada para pengikut Shadiq Shirazi yang megasuh 19 TV satelit dalam bahasa Persia, Arab, Inggris dan Turki.
Sebagian TV itu memiliki pusat stasiun siaran di Inggris, seperti TV Khadijah di Peterborough dan TV Al Zahra di Harrow, London, Inggris. Tak ayal, mereka pun disebut sebagai “Syiah MI6” sehubungan dengan sebagian mesin dakwahnya yang disokong oleh London. MI6 merupakan sebutan buat badan intelijen rahasia terkemuka Inggris.
Melalui semua TV satelit yang bisa diakses dari berbagai negara itu, Shirazian secara terang-terangan ‘menyerang’ para sahabat dan istri Nabi–suatu sikap yang diharamkan oleh pemimpin tertinggi Iran, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Khamenei menyebut “Syiah MI6” ini sebagai salah satu musuh Iran di samping AS dan Israel. Menyinggung mereka yang senantiasa menumpahkan bensin untuk membakar konflik Sunni-Syiah, Khamenei megatakan, “Syiah yang dipropagandakan melalui media massa London dan Amerika dengan target memecah belah umat tidaklah berada di jalur Syiah yang sesungguhnya.”
Sumber : IslamIndonesia.id / https://syiahmenjawab.com/imam-ali-khamenei-mengusik-mazhab-islam-lain-ciri-syiah-inggris/
Pendiri situs anti-kerahasiaan WikiLeaks, Julian Assange, membocorkan informasi bahwa Amerika Serikat (AS) mencoba menggulingkan Presiden Suriah, Bashar Al-Assad, sejak 2006. Salah satu caranya dengan mengadu dan menciptakan ketegangan antara kaum Sunni dan Syiah.
Menurut Assange, strategi adu domba Amerika Serikat ini dilaksanakan untuk memprovokasi Pemerintah Assad. Whistleblower yang sedang bersembunyi di Kedutaan Ekuador yang berlokasi di London-Inggris itu mengungkapkannya dalam sebuah dokumenter yang disiarkan hari Minggu di stasiun televisi Rossiya1.
Boss WikiLeaks itu menyatakan bahwa, Washington sedang berusaha untuk membuat Pemerintah Suriah paranoid. ”Dan mendapatkan reaksi berlebihan,” katanya, yang menambahkan bahwa AS menciptakan ketegangan antara Sunni dan Syiah.
Assange mengklaim bahwa anggota pasukan udara AS, Inggris dan Prancis pernah bertemu dengan perwakilan dari Stratfor, sebuah perusahaan intelijen global sebelum Desember 2011. Para pejabat menyatakan bahwa sudah ada agen khusus yang bertindak di Suriah, tapi mereka membutuhkan kemarahan besar untuk memicu pertumpahan darah. Mereka membutuhkan alasan yang signifikan guna menyerang sistem pertahanan udara Suriah.
- Baca Juga :

- Kongres AS: Strategi Amerika untuk Menyingkirkan Bassar Asad Gagal Total, VIDEO
- Maula TV- Para pengamat Timur Tengah menyatakan bahwa yang “bermain” dalam menciptakan kekacauan di Suriah adalah Amerika.
Suriah telah dilanda perang saudara sejak 2011, di mana pasukan rezim Assad memerangi beberapa pasukan faksi oposisi dan kelompok-kelompok militan radikal. Konflik di Suriah semakin parah, setelah muncul kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Seperti dilansir CNN (21/12/2015) - Negara-negara Barat dan beberapa Negara Timur Tengah tidak menganggap Assad sebagai pemimpin otoritas yang sah dari Suriah. Sementara Rusia, salah satu sekutu Assad, menilai bahwa Assad harus tetap memimpin Suriah.
Pada tahun 2011, Washington memberlakukan sanksi terhadap Assad dengan harapan bahwa ia akan mengundurkan diri. Tapi, sampai saat ini Assad masih berkuasa, terutama sejak ditolong sekutunya, Rusia.
Suriah pada 2014 juga pernah menggelar Pemilu di mana Assad terpilih lagi menjadi Presiden setelah menang telak dengan perolehan suara 88,7 persen. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap Pemilu itu sebagai lelucon.[metroIslam] / http://pkspuyenganonline.blogspot.co.id/2016/02/adu-domba-sunni-syiah-adalah-strategi.html
Khamenei: Syiah di Irak dan Sunni di Amerika Sama-Sama Musuh Islam
Teheran, LiputanIslam.com –
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei
menegaskan bahwa persatuan umat Islam sekarang adalah kebutuhan nomor
satu di dunia Islam. Sebagaimana dilaporkan Alalam, hal ini dia
kemukakan dalam kata sambutannya saat menerima kunjungan para peserta
Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-28 di Teheran, Jumat
(9/1/2015).“Bersanding saja umat Islam satu sama lain sudah cukup untuk memberikan jatidiri kepada dunia Islam dan menciptakan keagungan bagi umat Islam,” katanya.
Dia mengaku prihatian menyaksikan keberhasilan konspirasi musuh Islam dalam menciptakan perpecahan di tengah umat Islam.
Menurutnya, seandainya kepedulian bangsa-bangsa Muslim dengan fasilitas dan potensinya yang sedemikian besar dan istimewa tercurahkan kepada persoalan-persoalan yang general dan primer, bukan pada persoalan-persoalan sekunder, niscaya wibawa umat Islam sudah terangkat di mata dunia.
Lebih lanjut dia menyebutkan bahwa orang-orang Sunni ataupun Syiah yang menjalin relasi dengan badan intelijen Inggris dan Amerika Serikat (AS) sama-sama telah bertindak anti Islam.
“Syiah yang menjalin hubungan dengan aparat intelijen Inggris tak patut disebut Syiah, demikian pula Sunni yang menjalin hubungan dengan intelijen AS tak patut disebut Sunni. Kedunya sama-sama musuh Islam,” tegasnya.
Khamenei menilai sebagian negara di Timur Tengah membangun kebijakan politik luar negeri berdasar sentimen anti Iran.
“Ini merupakan kesalah besar dan bertentangan dengan akal, kebijaksanaan dan logika… Tak seperti mereka, Iran membangun kebijakan politiknya berdasarkan semangat persahabatan dengan bangsa-bangsa Muslim dan negara-negara jiran,” ungkapnya.
Dia menambahkan, “Ketika kubu arogan dunia berusaha menebar Islamfobia dan menodai citra Islam yang suci, bukankah pernyataan-pernyataan yang menimbulkan perpecahan dan tindakan saling menodai citra sesama umat Islam bertentangan hikmat, akal dan siasat?” (mm) / http://liputanislam.com/internasional/timur-tengah/khamenei-syiah-di-irak-dan-sunni-di-amerika-sama-sama-musuh-islam/










